"Sudah punya momongan?"
Lagi-lagi sebuah pertanyaan mengusik. Saya heran. Bukan lagi pada mereka yang selalu bertanya. Tapi lebih kepada diri saya sendiri. Kenapa saya masih bisa terusik hanya dengan sebuah pertanyaan, padahal saya telah terlatih dengan pertanyaan-pertanyaan sebelumnya, "kapan lulus", atau, "kapan merit" dan pertanyaan lain yang seolah-olah menyatakan bahwa sayalah pemilik Kitab Lauhful Mahfudz.
Seperti pertanyaan-pertanyaan sebelumnya, semestinya saya tidak perlu khawatir karena suatu saat pertanyaan-pertanyaan itu akan terjawab dengan sendirinya. Bedanya, jika dulu begitu ditanya, dan tidak tahu bagaimana harus menjawab, saya akan langsung bertanya kepada Sang Pemilik Lauhful Mahfudz, dan saya serahkan kepadaNya langsung, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Tapi kini, untuk satu pertanyaan tadi, tentang anak, bahkan bertanya pun saya tidak berani.
Perkara anak bukan saja perkara rizki, tapi juga perkara amanah. Jujur, saya agak trauma, karna ketika dulu saya bertanya kepadaNya tentang perkara jodoh, dan kemudian dijawab, saat ini saya baru sadar, bahwa ternyata bahkan saya belum siap untuk bertanya.
Yap. Dan bahkan untuk sekedar bertanya, butuh persiapan. Sudah setahun lebih saya menikah, tapi belum juga terampil dalam urusan rumah tangga. Urusan mencuci pakaian, suami saya lebih sering mengerjakannya daripada saya. Jenis makanan yang bisa saya masak, bisa dihitung dengan jari. Belum lagi sikap kekanakan dan tidak qona'ah yang seringkali harus dihadapi oleh suami saya. Kadang saya berfikir, dosa apa dia hingga harus menerima hukuman untuk punya istri sepayah saya. Dalam pernikahan kami, saya bersyukur karna punya suami sepertinya, dan dia harus bersabar karna punya istri seperti saya.
Itulah sebabnya, saya tidak pernah berani meminta agar dikaruniai anak. Bagi saya, anak adalah amanah, yang tidak boleh diminta, dan tidak boleh ditolak. Ketika Allah kelak merizkykan, saya akan sambut dengan penuh syukur. Jika belum, berarti memang saya belum siap untuk diberi amanah dalam penilaian Allah.
Dan itu juga sebabnya, saya risih sekali jika ada akhwat yang tarbiyahnya belum lama, sudah ribut membicarakan masalah nikah, tanpa mau berkaca sejauh mana kesiapan dirinya. Saya khawatir, mereka yang hanya mau tapi tidak diikuti dengan memampukan diri, hanya akan merasakan penyesalan yang saya rasakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar