Setiap baca alma'tsurat, selalu saja, butuh waktu lebih lama
untuk melafalkan 100x kalimat tahlil, "Laa ilaaha illAllaah”, dibanding
kalimat dzikrullah lainnya, SubhanAllah, Alhamdulillah, dan Allahu Akbar.
Rasanya begitu berat, panjang dan lama untuk sampai di angka ke 100. Mulai dari
mempertahankan posisi duduk yang semula
sempurna, dan tidak berubah jadi tiduran, kelesotan gga jelas di angka ke 100,
mempertahankan fikiran untuk tetap meresapi maknanya, hingga mempertahankan
agar bacaan tersebut tetap benar, lam mana yang harus dua harokat, lam mana
yang harus ditebalkan, hingga menahan bibir dari sesuatu yang dibenci Allah:
menguap.
Ketika diri coba mengevaluasi, astaghfirullah, benarlah
Allah belum memudahkan,,
Mudah untuk mengucap subhanAllah karena banyaknya kekurangan
diri yang dihadapkan atas keMaha Sempurnaan Allah, mudah mengucap hamdalah
karena tidak pernah tuntasnya kita dalam menghitung nikmat yang senantiasa
Allah berikan. Dan mudah mengucap takbir, karena ialah obat, penawar ketika
perjuangan terasa sedemikian berat. Namun lain soal untuk kalimat tahlil.
Kalimat tahlil ini adalah pokok aqidah. Bagian dari
syahadat. Yang dikaruniai kemudahan dalam melantuknannya, tentulah orang yang
juga aqidahnya baik. Dan orang yang baik aqidahnya, adalah mereka yang terjaga
dari syirik. Saya memang tidak menyembah berhala. Saya juga tidak memakai
jampi-jampi, pergi ke dukun, percaya atau sekedar membaca ramalan bintang, dan
berbagai jenis syirik akbar lainya.
Tapi apa yang saya lakukan ketika saya masih mendengar
nasyid kemudian terdengar adzan? Apakah saya langsung mengecilkan lagunya?
Tidak, saya hanya menunggu adzan selesai, dan kemudian
membaca doa setelahnya, tanpa menundukkan nasyid yang saya dengarkan.
Apa yang saya lakukan ketika saya sedang menyetrika,
kemudian Allah memanggil saya untuk menghadapnya? Apakah saya langsung
mematikan setrikaan saya?
Tidak. Saya hanya menjawab panggilan itu dengan sombong,
dalam hati, “Sebentar ah, tanggung, sedikit lagi.”
Astaghfirullah, bahkan mengucap ah pada ibu-bapak saja
dilarang, tapi ini, justru saya ucapkan pada Rabb saya.. betapa tidak
pantasnya, betapa durhakanya, betapa kejinya, betapa bodohnya, Hal yang sama
saya lakukan ketika sendang mencuci, menjemur pakaian dan lain-lain.
Sangat sering saya menomor duakan Allah untuk aktivitas
duniawi saya yang remeh temeh. Padahal menduakan Allah adalah salah satu bentuk
syirik yang demikian halus. Halus karena pelakunya jarang menyadari, atau
terlambat menyadari, bahwa yang ia lakukan adalah syirik.
Astaghfirullah..
Dari Abu Musa Al-Asy’ari ra berkata, bahwa suatu hari
Rasulullah ShalAllahu Alaihi Wassalam berkhutbah dihadapan kami, seraya
bersabda, “Wahai sekalian manusia, takutlah kalian kepada syirik, karena
sesungguhnya syirik itu lebih lembut dari binatang semut”
Kemudian berkatalah seseorang kepada beliau, “Bagaimana kami
mewaspadainya wahai Rasulullah, sementara dia lebih lembut daripada semut?”
Rasulullah ShalAllahu Alaihi Wassalam bersabda, “Katakanlah
: ‘Allaahumma innaa na’uudzubika min annusyrika bika syai’an na’lamuhu wa
nastaghfiruka lima na’lamuhu’ (artinya:’Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung
kepadaMu dari menyekutukanMu dengan sesuatu yang kami ketahui, dan kami mohon
ampun kepadaMu dari sesuatu yang tidak kami ketahui’)”
(Hadits riwayat Ahmad dan Thabrani dengan sanad yang baik.
Juga diriwayatkan oleh Abu Ya’la sebagaimana hadits tadi dari Hudzaifah, hanya
saja hudzaifah berkata, “Beliau (Rasulullah ShalAllahu Alaihi Wassalam)
membacanya tiga kali.”)
Allahumma yassir wa laa tu’assir,,
Ya Allah, mudahkanlah, dan jangan Engkau persulit,,
Mudahkanlah kami untuk mengucap kalimat TahlilMu, dan jangan Engkau persulit kami untuk merutinkannya, dan menjadikannya sebaik-baik hiasan bagi lisan kami,,
Ya Allah, mudahkanlah, dan jangan Engkau persulit,,
Mudahkanlah kami untuk mengucap kalimat TahlilMu, dan jangan Engkau persulit kami untuk merutinkannya, dan menjadikannya sebaik-baik hiasan bagi lisan kami,,
Aamiin,,
Sedikit renungan di Hari Raya Umat Muslim, Jum’at Barokah
insya Allah,,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar