Jumat, 19 April 2013

Laa ilaaha illAllaah


Setiap baca alma'tsurat, selalu saja, butuh waktu lebih lama untuk melafalkan 100x kalimat tahlil, "Laa ilaaha illAllaah”, dibanding kalimat dzikrullah lainnya, SubhanAllah, Alhamdulillah, dan Allahu Akbar. Rasanya begitu berat, panjang dan lama untuk sampai di angka ke 100. Mulai dari mempertahankan  posisi duduk yang semula sempurna, dan tidak berubah jadi tiduran, kelesotan gga jelas di angka ke 100, mempertahankan fikiran untuk tetap meresapi maknanya, hingga mempertahankan agar bacaan tersebut tetap benar, lam mana yang harus dua harokat, lam mana yang harus ditebalkan, hingga menahan bibir dari sesuatu yang dibenci Allah: menguap.

Ketika diri coba mengevaluasi, astaghfirullah, benarlah Allah belum memudahkan,,
Mudah untuk mengucap subhanAllah karena banyaknya kekurangan diri yang dihadapkan atas keMaha Sempurnaan Allah, mudah mengucap hamdalah karena tidak pernah tuntasnya kita dalam menghitung nikmat yang senantiasa Allah berikan. Dan mudah mengucap takbir, karena ialah obat, penawar ketika perjuangan terasa sedemikian berat. Namun lain soal untuk kalimat tahlil.

Kalimat tahlil ini adalah pokok aqidah. Bagian dari syahadat. Yang dikaruniai kemudahan dalam melantuknannya, tentulah orang yang juga aqidahnya baik. Dan orang yang baik aqidahnya, adalah mereka yang terjaga dari syirik. Saya memang tidak menyembah berhala. Saya juga tidak memakai jampi-jampi, pergi ke dukun, percaya atau sekedar membaca ramalan bintang, dan berbagai jenis syirik akbar lainya.

Tapi apa yang saya lakukan ketika saya masih mendengar nasyid kemudian terdengar adzan? Apakah saya langsung mengecilkan lagunya?

Tidak, saya hanya menunggu adzan selesai, dan kemudian membaca doa setelahnya, tanpa menundukkan nasyid yang saya dengarkan.

Apa yang saya lakukan ketika saya sedang menyetrika, kemudian Allah memanggil saya untuk menghadapnya? Apakah saya langsung mematikan setrikaan saya?

Tidak. Saya hanya menjawab panggilan itu dengan sombong, dalam hati, “Sebentar ah, tanggung, sedikit lagi.”

Astaghfirullah, bahkan mengucap ah pada ibu-bapak saja dilarang, tapi ini, justru saya ucapkan pada Rabb saya.. betapa tidak pantasnya, betapa durhakanya, betapa kejinya, betapa bodohnya, Hal yang sama saya lakukan ketika sendang mencuci, menjemur pakaian dan lain-lain.

Sangat sering saya menomor duakan Allah untuk aktivitas duniawi saya yang remeh temeh. Padahal menduakan Allah adalah salah satu bentuk syirik yang demikian halus. Halus karena pelakunya jarang menyadari, atau terlambat menyadari, bahwa yang ia lakukan adalah syirik.
Astaghfirullah..

Dari Abu Musa Al-Asy’ari ra berkata, bahwa suatu hari Rasulullah ShalAllahu Alaihi Wassalam berkhutbah dihadapan kami, seraya bersabda, “Wahai sekalian manusia, takutlah kalian kepada syirik, karena sesungguhnya syirik itu lebih lembut dari binatang semut”
Kemudian berkatalah seseorang kepada beliau, “Bagaimana kami mewaspadainya wahai Rasulullah, sementara dia lebih lembut daripada semut?”
Rasulullah ShalAllahu Alaihi Wassalam bersabda, “Katakanlah : ‘Allaahumma innaa na’uudzubika min annusyrika bika syai’an na’lamuhu wa nastaghfiruka lima na’lamuhu’ (artinya:’Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepadaMu dari menyekutukanMu dengan sesuatu yang kami ketahui, dan kami mohon ampun kepadaMu dari sesuatu yang tidak kami ketahui’)”
(Hadits riwayat Ahmad dan Thabrani dengan sanad yang baik. Juga diriwayatkan oleh Abu Ya’la sebagaimana hadits tadi dari Hudzaifah, hanya saja hudzaifah berkata, “Beliau (Rasulullah ShalAllahu Alaihi Wassalam) membacanya tiga kali.”)

Allahumma yassir wa laa tu’assir,,
Ya Allah, mudahkanlah, dan jangan Engkau persulit,,
Mudahkanlah kami untuk mengucap kalimat TahlilMu, dan jangan Engkau persulit kami untuk merutinkannya, dan menjadikannya sebaik-baik hiasan bagi lisan kami,,
Aamiin,,

Sedikit renungan di Hari Raya Umat Muslim, Jum’at Barokah insya Allah,,

Rabu, 10 April 2013

"Udah punya momongan?"

"Sudah punya momongan?"

Lagi-lagi sebuah pertanyaan mengusik. Saya heran. Bukan lagi pada mereka yang selalu bertanya. Tapi lebih kepada diri saya sendiri. Kenapa saya masih bisa terusik hanya dengan sebuah pertanyaan, padahal saya telah terlatih dengan pertanyaan-pertanyaan sebelumnya, "kapan lulus", atau, "kapan merit" dan pertanyaan lain yang seolah-olah menyatakan bahwa sayalah pemilik Kitab Lauhful Mahfudz.

Seperti pertanyaan-pertanyaan sebelumnya, semestinya saya tidak perlu khawatir karena suatu saat pertanyaan-pertanyaan itu akan terjawab dengan sendirinya. Bedanya, jika dulu begitu ditanya, dan tidak tahu bagaimana harus menjawab, saya akan langsung bertanya kepada Sang Pemilik Lauhful Mahfudz, dan saya serahkan kepadaNya langsung, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Tapi kini, untuk satu pertanyaan tadi, tentang anak, bahkan bertanya pun saya tidak berani.

Perkara anak bukan saja perkara rizki, tapi juga perkara amanah. Jujur, saya agak trauma, karna ketika dulu saya bertanya kepadaNya tentang perkara jodoh, dan kemudian dijawab, saat ini saya baru sadar, bahwa ternyata bahkan saya belum siap untuk bertanya.

Yap. Dan bahkan untuk sekedar bertanya, butuh persiapan. Sudah setahun lebih saya menikah, tapi belum juga terampil dalam urusan rumah tangga. Urusan mencuci pakaian, suami saya lebih sering mengerjakannya daripada saya. Jenis makanan yang bisa saya masak, bisa dihitung dengan jari. Belum lagi sikap kekanakan dan tidak qona'ah yang seringkali harus dihadapi oleh suami saya. Kadang saya berfikir, dosa apa dia hingga harus menerima hukuman untuk punya istri sepayah saya. Dalam pernikahan kami, saya bersyukur karna punya suami sepertinya, dan dia harus bersabar karna punya istri seperti saya.

Itulah sebabnya, saya tidak pernah berani meminta agar dikaruniai anak. Bagi saya, anak adalah amanah, yang tidak boleh diminta, dan tidak boleh ditolak. Ketika Allah kelak merizkykan, saya akan sambut dengan penuh syukur. Jika belum, berarti memang saya belum siap untuk diberi amanah dalam penilaian Allah.

Dan itu juga sebabnya, saya risih sekali jika ada akhwat yang tarbiyahnya belum lama, sudah ribut membicarakan masalah nikah, tanpa mau berkaca sejauh mana kesiapan dirinya. Saya khawatir, mereka yang hanya mau tapi tidak diikuti dengan memampukan diri, hanya akan merasakan penyesalan yang saya rasakan.

Jumat, 19 November 2010

buat yang nanyaaaaa mulu,,,

tanya,,:"ayu,sepupu kamu dh mo nikah tu,,km kapan nyusul..?"
jawab,,:"masi sibuk nunggu jemputan mba,,"
tanya,,:"oh,,udah ada yang mo jemput yah,,barakAllah,,ikhwan mana,,?"
jawab,,:"bukan ikhwan mba,,"
tanya,,:"astgahfirullah,,terus siapa,,?"
jawab,,:"yang mo jemput namanya izrail."

semoga,,harapan, cita dan impian yang ada tidak melalaikan kita dari maut,,:)

buat seseorang yang ada disana, semoga tidak merasa terduakan dengan izrail..:D